Thursday, March 01, 2007

Assalammualaikum...
Mohon maaf, karena satu dan lain hal, Ellita ga site di sini lagi....
Silakan visit me di www.oryz.multiply.com
Wassalam

Monday, November 20, 2006

Belajar Mengeja Makna

Duka
Adalah suatu masa ketika kita kehilangan hamasah, ketika kita mulai futur
dan membiarkan diri kita berlama-lama dengannya
dengan menjadikan‘iman manusia itu kadang naik kadang turun’
sebagai legitimasi.
Adalah untuk kita…ketika kita kehilangan empati untuk berbagi.
Ketika kita sudah mulai acuh dengan segala hal yang terjadi di sekitar kita.
Adalah jenak-jenak waktu di saat kita hanya bisa bicara tapi tak mampu berbuat apa-apa,
atau ketika kita hanya bisa memberi nasihat
tapi kita tidak bisa melakukan apa yang kita nasihatkan.
Adalah detik di mana kita telah memahatkan perih di hati saudara-saudara kita
dengan kata dan sikap kita yang tak patut pada mereka.

Kecewa
Adalah untuk mereka…yang memberikan segenap kepercayaannya pada kita,
namun kerap kali kita melalaikannya
dengan alasan lelah, sibuk, dan lainnya.
Padahal kita tahu bahwa kemuliaan ‘kan diraih dengan tangga kelelahan…
Adalah untuk mereka yang meminta uluran tangan kita
namun kita meninggalkan mereka begitu saja.
Adalah untuk mereka yang kita bina, hanya dengan kata...
namun kering tauladan, miskin perhatian dan kasih sayang.

Sedih
Adalah untuk kita…ketika kita mulai jumud dengan segala beban yang dipikulkan di atas pundak kita. Padahal tabiat dakwah tidak ada satupun yang menunjukkan bahwa perjuangan ini adalah perjuangan yang mudah dan ringan.
Adalah untuk kita…ketika surga 'Adn yang ditawarkan olehNya kita tinggalkan begitu saja dengan berpikir untuk lebih memilih meninggalkan jalan ini…
karena sedikitpun jalan ini tidak memberikan keuntungan materi.

Kosong
Adalah untuk kita…ketika sujud-sujud kita tidak lagi memberikan
atsar, -bekas- dalam kehidupan kita.
Adalah untuk kita ketika dalam setiap ibadah…kita bahkan lupa
kepada siapa kita menghadap.
Adalah untuk kita ketika segala aktivitas yang kita lakukan telah kehilangan ruh…!
Ketika semua aktivitas kita anggap sebagai rutinitas, bukan sebagai kewajiban dan kebutuhan…
Adalah untuk kita ketika sepertiga malam terakhir kita lewatkan begitu saja
dalam mimpi-mimpi tidur kita…
Padahal Ia senantiasa merindui kita untuk bercengkerama denganNya.
Adalah kita sendiri…
ketika kita t’lah kehilangan makna dan hakikat diri kita.

Bahagia
Adalah untuk kita…ketika kita mampu berbagi dengan orang lain dengan segala yang kita miliki meskipun kita membutuhkannya.
Adalah untuk kita ketika kita bisa terus memberi dan memberi...
karena kita yakin bahwa yang terbaik di antara umat Muhammad adalah
yang paling bermanfaat buat orang lain.
Adalah untuk kita ketika kita mampu melukis senyum
untuk saudara-saudara kita yang telah bosan dengan air mata.
Adalah untuk kita ketika Allah tersenyum pada kita tatkala kita bersegera
memohon ampunanNya atas sekecil dosa yang kita lakukan.
Adalah untuk kita dengan segenap pengorbanan
yang membuat kita kian dimuliakan olehNya.
Adalah untuk kita ketika kita yakin bahwa Allah takkan mengingkari janjinya untuk menolong orang yang menolong agamaNya.
Adalah bagi mereka….dan juga kita…yang saling mencinta karenaNya...

Setia
Adalah untuk kita yang telah menisbatkan diri untuk berjuang di jalanNya,
karena kita telah berjual beli; harta dan jiwa kita untuk seluas surga
yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Adalah untuk kita yang akan tetap tegak berdiri meski ujian terus mendera,
karena kita terus belajar dari kisah para Anbiya;
Muhammad yang tak kenal menyerah meski umatnya mengingkari dan ingin membunuhnya; Ayyub yang semakin mencintaiNya meski seluruh putra dan hartanya
diminta kembali olehNya;
Nuh yang beratus tahun menyerukan tauhid pada umatnya
namun hanya binatang-binatang berpasanganlah yang mengimaninya.
Adalah milik kita ketika kita paham bahwa untuk melihat pelangi
kita harus siap dengan datangnya hujan...

Cinta
Adalah DIA
DIA
DIA
Yang tidak pernah menolak cinta kita
Karena IA adalah sang Maha Cinta
Yang terus melingkupi orang-orang yang mencintaiNya dengan cintaNya

Thursday, November 09, 2006

Manusia-Manusia Langit


Jadilah manusia-manusia langit
Yang dengan sayapnya dapat meringankan beban bumi
Jadilah manusia-manusia langit
Dengan biru lembutnya, mampu memberi keteduhan pada bumi
Jadilah manusia-manusia langit dengan sejuta keutamaannya
Ia istimewa karena rela berkorban,
Dengan tubuhnya ia payungi bumi
Agar tidak kepanasan...
Ia menjadi mulia, karena baginya...
memberi adalah sebuah keindahan,
Keindahan dan keindahan...
Tapi manusia langit bukan segalanya
Di atas kecantikannya... Allahlah yang Maha Sempurna
Manusia langit bukanlah segalanya
Sayapnya bisa lelah, birunya dapat tertutup awan hitam
Tubuhnya tidak mampu menutup seluruh bumi
Dan ia perlu menerima
Menerima sebuah kekuatan untuk menjalankan tugasnya
Karenanya...
Di pagi hari ia berdzikir
Saat siang ia bekerja dan
Malam hari ia berkhalwat dengan Rabbnya
Sebab tanpa Rabbnya... ia pasti bukan apa-apa

*(Ane temukan puisi ini di box MediArt, tidak tahu siapa yg menulis.
Anyway, jazakumullah. InsyaAllah ikhlas ya...!! jadi inspirasi!)

Wednesday, November 08, 2006

For The Knights of Heaven

This is the best place
Where we leave our struggle trace
Maybe nobody will understand
What we do on this land

This is the best conversation
Where we can share our condition
Pain and laughter together
‘coz we are sisters and brothers

This is the best time
To make a beautiful life rhyme
Don’t be sad with the dark night
Forever, we are the knight

This is the best story
That we take this way, so lovely
To tell our grandchildren
We are the the searcher of heaven

This is the best Love to feel
Extremely absurd, but so real
Where we can gather and sing
The song of the fighters with no ending

*published in English Department of Faculty of Letters UNDIP poem anthology 2002

JALAN


Jangan pernah ada yang merasa berjalan sendiri
Karena sendiri itu sunyi
Sendiri itu gelap
Sendiri itu getir
Sendiri itu tak pasti
Sendiri itu
Beban!
Ke mana mereka
Yang dulu berkata
Mari melangkah bersama
Ke mana mereka
Yang dulu berteriak
Kami ada di belakangmu
Di belakang
Di
Belakang
Sekali
Hingga tak tampak lagi
Sendiri menoleh pada Sunyi
“Sunyi…mungkin memang harus begini.”
Sunyi menjawab “Sunyi dan Sendiri takkan pernah terpisahkan.”
“Memang!”
Sendiri berpaling pada Gelap
“Bersinarlah! Kumohon…mungkin mereka tertinggal.”
Gelap tertawa mengejek “ha..ha…tanyakan pada Cahaya! Bahkan ia pun tak menemukan mereka di sana.”
Getir ikut nimbrung. “Sudahlah…kau memang harus di sini!”
“Aku masih mengharapkan mereka menyusulku. Akan kutunggu!”
Tiba-tiba dari belakang Waktu menyergap Sendiri
“Ayo cepat! Kita harus pergi sekarang, tak ada menit tersisa. Misimu harus diselesaikan!”
“Lepaskan! Kau kejar aku setiap hari. Aku lelah! Biarkan aku beristirahat! Aku ingin menunggu mereka.”
“Bodoh! Mereka sudah gugur sejak lama. Mereka takkan kembali.” Ujar Gelap
“Tidak! Tidak mungkin! Mereka sudah berjanji akan berada di belakangku!”
“Cahaya, katakana padanya yang sesungguhnya!”
Cahaya bergulir, sinar terik. Perih berlelehan di kening Sendiri.
Tapi ia gemetar, ia termangu, gamang.
“Sendiri…malang sekali!”
“Tidak perlu bertele-tele! Cepat katakan!” desak Gelap
“Mereka tersesat!”
“Ke mana? Cepat katakan!” Aku akan mencari, aku akan menemukan mereka!”
“Ayo pergi bersamaku! Tak ada kesempatan lagi. Beban akan segera datang. Ayo lari!” Waktu menyeret-nyeret Sendiri
“Kumohon…cepat katakan di mana mereka!” Mata tak bisa membendung bah air mata Sendiri. Waktu terus menariknya.
“Ayo, cepat…! Cepat…!!”
“Kumohon…katakan…”!”
Cahaya dan Gelap terkekeh.
“Jangan biarkan dia pergi. Kita harus menahannya untuk tetap di sini.” Seru Sunyi pada Getir
Wajahnya pucat pasi. Ketakutan.
“Ayo tarik dia!” Sunyi dan Getir menarik Sendiri ke arah yang berlawanan .
“Lepaskan dia! Biarkan dia ikut bersamaku!” Teriak Waktu.
“tidak bisa! Sendiri itu sunyi. Sendiri itu getir.”
“Cukup! Lepaskan aku!” air mata Sendiri menganak sungai. Getir, Sunyi, dan Waktu terus menarik-narik Sendiri
“Awas…!!” teriak Waktu ketika semerta-merta dilihatnya sebuah benda besar jatuh dari langit. Benda itu tepat menimpa Sendiri. Ia terkapar. Nafasnya satu-satu.
“Aku datang untukmu.” Kata benda itu. Sementara Waktu lari terbirit-birit. Yang lain terpaku melihat pemandangan di depan mereka.
“Siapa?” Tanya Sendiri lemah.
“Beban!”
“Kenapa harus padaku?”
“Kau sendiri?”
“Aku bersama mereka.”
“Tidak ada”
“Aku sedang menunggu.”
“Takkan datang. Kau sendiri.”
“Ke mana Waktu?”
“Sudah pergi meninggalkanmu.”
Sendiri berusaha bangkit. Keringat bercampur darah berlelehan. Ia mulai batuk-batuk. Ia mencari pegangan, namun yang ada hanya udara.
Ia limbung. Ia rapuh, rubuh! Darah segar memgucur dari keningnya.
“Aku ingin menunggu mereka…” Ujarnya lirih
Cahaya mendekatinya, meredupkan sinarnya.
“mereka ambil jalan yang lain.”
“Ke mana?”
“Satu jalan…. Dua jalan…”
Sendiri mengerang. Bayang mereka datang. Menatap nanar. Ada cemas terpatah, kasihan lelah, bersalah! Tatap berujar pelan
“Maafkan, maafkan kami!”
Sendiri tersenyum getir. Bilangnya: Sendiri itu sunyi
Sendiri itu gelap
Sendiri itu getir
Sendiri itu tak pasti
Sendiri itu
Beban!

-kupersembahkan untuk seluruh pejuang dakwah di dunia-

(published on the bulletin of the 9th muktamar of Keluarga Mahasiswa Muslim Sastra (KMMS) Diponegoro University)


Notes : Sedikit tentang cerpen ini.
Cerpen Jalan ini adalah my very first (I hope not the last) inconventional story that I have ever made. Aku ingat waktu semester tiga (kalo ga salah), ada seorang teman seperjalanan yang menghampiriku, mengeluhkan kesendiriannya dalam kerja amal jama’i. Ceritanya terhisap sampai dalam ke hati dan alam pikirku. Sayang sekali waktu itu aku harus memotong ceritanya karena aku harus segera mengikuti kuliah. Di kelas, aku tidak bisa konsentrasi sama sekali. Akhirnya…selama satu jam kuliah aku bikin sketsa cerita dan jadilah cerpen ini!

Tuesday, November 07, 2006

Assalammualikum

Bismillah....
Setelah kutilik kembali lembaran-lembaran perjalananku mencari Tuhan...
Aku bahagia bisa merajutnya menjadi sebuah kesan yang sangat bermakna
Aku menemukanNya
Sungguh