
Jangan pernah ada yang merasa berjalan sendiri
Karena sendiri itu sunyi
Sendiri itu gelap
Sendiri itu getir
Sendiri itu tak pasti
Sendiri itu
Beban!
Ke mana mereka
Yang dulu berkata
Mari melangkah bersama
Ke mana mereka
Yang dulu berteriak
Kami ada di belakangmu
Di belakang
Di
Belakang
Sekali
Hingga tak tampak lagi
Sendiri menoleh pada Sunyi
“Sunyi…mungkin memang harus begini.”
Sunyi menjawab “Sunyi dan Sendiri takkan pernah terpisahkan.”
“Memang!”
Sendiri berpaling pada Gelap
“Bersinarlah! Kumohon…mungkin mereka tertinggal.”
Gelap tertawa mengejek “ha..ha…tanyakan pada Cahaya! Bahkan ia pun tak menemukan mereka di sana.”
Getir ikut nimbrung. “Sudahlah…kau memang harus di sini!”
“Aku masih mengharapkan mereka menyusulku. Akan kutunggu!”
Tiba-tiba dari belakang Waktu menyergap Sendiri
“Ayo cepat! Kita harus pergi sekarang, tak ada menit tersisa. Misimu harus diselesaikan!”
“Lepaskan! Kau kejar aku setiap hari. Aku lelah! Biarkan aku beristirahat! Aku ingin menunggu mereka.”
“Bodoh! Mereka sudah gugur sejak lama. Mereka takkan kembali.” Ujar Gelap
“Tidak! Tidak mungkin! Mereka sudah berjanji akan berada di belakangku!”
“Cahaya, katakana padanya yang sesungguhnya!”
Cahaya bergulir, sinar terik. Perih berlelehan di kening Sendiri.
Tapi ia gemetar, ia termangu, gamang.
“Sendiri…malang sekali!”
“Tidak perlu bertele-tele! Cepat katakan!” desak Gelap
“Mereka tersesat!”
“Ke mana? Cepat katakan!” Aku akan mencari, aku akan menemukan mereka!”
“Ayo pergi bersamaku! Tak ada kesempatan lagi. Beban akan segera datang. Ayo lari!” Waktu menyeret-nyeret Sendiri
“Kumohon…cepat katakan di mana mereka!” Mata tak bisa membendung bah air mata Sendiri. Waktu terus menariknya.
“Ayo, cepat…! Cepat…!!”
“Kumohon…katakan…”!”
Cahaya dan Gelap terkekeh.
“Jangan biarkan dia pergi. Kita harus menahannya untuk tetap di sini.” Seru Sunyi pada Getir
Wajahnya pucat pasi. Ketakutan.
“Ayo tarik dia!” Sunyi dan Getir menarik Sendiri ke arah yang berlawanan .
“Lepaskan dia! Biarkan dia ikut bersamaku!” Teriak Waktu.
“tidak bisa! Sendiri itu sunyi. Sendiri itu getir.”
“Cukup! Lepaskan aku!” air mata Sendiri menganak sungai. Getir, Sunyi, dan Waktu terus menarik-narik Sendiri
“Awas…!!” teriak Waktu ketika semerta-merta dilihatnya sebuah benda besar jatuh dari langit. Benda itu tepat menimpa Sendiri. Ia terkapar. Nafasnya satu-satu.
“Aku datang untukmu.” Kata benda itu. Sementara Waktu lari terbirit-birit. Yang lain terpaku melihat pemandangan di depan mereka.
“Siapa?” Tanya Sendiri lemah.
“Beban!”
“Kenapa harus padaku?”
“Kau sendiri?”
“Aku bersama mereka.”
“Tidak ada”
“Aku sedang menunggu.”
“Takkan datang. Kau sendiri.”
“Ke mana Waktu?”
“Sudah pergi meninggalkanmu.”
Sendiri berusaha bangkit. Keringat bercampur darah berlelehan. Ia mulai batuk-batuk. Ia mencari pegangan, namun yang ada hanya udara.
Ia limbung. Ia rapuh, rubuh! Darah segar memgucur dari keningnya.
“Aku ingin menunggu mereka…” Ujarnya lirih
Cahaya mendekatinya, meredupkan sinarnya.
“mereka ambil jalan yang lain.”
“Ke mana?”
“Satu jalan…. Dua jalan…”
Sendiri mengerang. Bayang mereka datang. Menatap nanar. Ada cemas terpatah, kasihan lelah, bersalah! Tatap berujar pelan
“Maafkan, maafkan kami!”
Sendiri tersenyum getir. Bilangnya: Sendiri itu sunyi
Sendiri itu gelap
Sendiri itu getir
Sendiri itu tak pasti
Sendiri itu
Beban!
-kupersembahkan untuk seluruh pejuang dakwah di dunia-
(published on the bulletin of the 9th muktamar of Keluarga Mahasiswa Muslim Sastra (KMMS) Diponegoro University)Notes : Sedikit tentang cerpen ini.
Cerpen Jalan ini adalah my very first (I hope not the last) inconventional story that I have ever made. Aku ingat waktu semester tiga (kalo ga salah), ada seorang teman seperjalanan yang menghampiriku, mengeluhkan kesendiriannya dalam kerja amal jama’i. Ceritanya terhisap sampai dalam ke hati dan alam pikirku. Sayang sekali waktu itu aku harus memotong ceritanya karena aku harus segera mengikuti kuliah. Di kelas, aku tidak bisa konsentrasi sama sekali. Akhirnya…selama satu jam kuliah aku bikin sketsa cerita dan jadilah cerpen ini!